Masa-masa SMA – bagian 1

Apa yang terpintas dibenak anda ketika melihat seorang yang berkacamata? Pandai, IQ > 130, nilai raport > 90, kutu buku (pelajaran) dan lain-lain. OK, tidak dengan saya!

Well, saya bukan anak yang rajin-membaca-buku-pelajaran di sekolah ataupun di rumah, i hate it when i don’t have any interest on something that someone told me what i’m about to do! Tapi, alhamdulillah, ga pernah lepas dari 5 besar 😛

Belajar? Besok ujian, pagi nya baru belajar (10 menit sebelum ujian/ulangan dimulai, kadang suka minta perpanjangan waktu, “Bu, 5 menit lagi ya! *masang muka yang hampir polos* besok UN, mendingan malem nya nge game)

Di kelas, saya kadang diam ( mereka bilang saya sombong, pendiam, yakali gw mesti teriak teriak, kalo ngga ada bahan buat di omongin, ya mendingan diam) jadi si pendiam, kadang jadi si gila, mereka hanya ngga paham gimana gilanya orang pendiam.

Bicara soal pelajaran, Fisika, bukan passion saya! TIK? bosen, materi yang udah saya pahami sejak saya SMP dan diulang lagi di bangku SMA, pffffttt mendingan tidur atau –gangguin temen yang lagi nyatet gimana caranya nge print GIF pake Microsoft Word, lirik kiri kanan, yang pake jilbab dibelakang lumayan juga, eh wait, kenapa dia berkumis??? *God!!

Waktu itu, saya belum kenalan sama yang namanya sumber terbuka, Linus Benedict Torvalds, Richard M. Stallman. Bektrek pas lagi booming-booming nya, sempet nge-install-in BT 5 R3 di laptop kawan dan datanya (hampir) hilang, bootloader Windows nya ngga sengaja kehapus, sorry bro! ) Biology, yeaaah! kinda interesting! to be honest, i just hate everything! especially PHYSICS! apalagi –saya orang yang mudah bosan– dan orang-orang yang ada disekitar saya pastinya paham bagaimana saya ketika saya mulai –bosan– dan ini salah satu mata pelajaran paling mujarap sebagai pengganti obat tidur siang.

Sejarah? oh, come on! i’m a forgotful person! even i don’t know when was my dad born! Seni? my sense of art is way better than my sense of humour! Tapi saya buruk di seni tari dan seni tarik menarik, khusus nya seni tarik suara! Kesimpulan,

Q&A:

Q: Kenapa saya bisa sampe kuliah di jurusan fisika?

 A: Karena ini hal tergreget dari sekian hal greget yang pernah gw lakuin B| Bakalan bosen di depan laptop semisal ngambil jurusan yang ada hubungannya   sama IT, pffftt si kamprets lagi si kamprets lagi
*kamprets = kampret + kampret + kampret

A: Ngga tega ngeliat emak, selesai periksa ke atas (check-up) mata. nih ma ( ngasih lihat hasil check-up ) *jreeenggg* wah nak, selamat ya, minus nya nambah jadi 10 *kemudian ngap-ngap an  *OK, see?*

sampai jumpa di part 2 😛

My Political Line

My Political Line

Ketika seseorang berbicara mengenai pemilu, saya memilih diam. Ketika seseorang berbicara tentang kebobrokan sebuah partai politik, saya memilih diam. Ketika seseorang menghancurkan kesatuan dan persatuan demi fanatisme, saya, saya seperti bukan saya yang dulunya diam dalam menghadapi orang-orang seperti ini, melawan mereka bukanlah hal bijak, hal yang paling bijak adalah berhenti mengacuhkan mereka karena hal yang paling mereka butuhkah adalah perhatian dari publik. Yang sebaiknya kita hindari adalah menghindari fanatisme terhadap suatu golongan, termasuk fanatisme pada Tuhan yang akhirnya juga akan melahirkan kebutaan akan apa itu kemanusiaan. Saya tidak menyalahkan mereka yang mengikuti suatu golongan yang kini tengah marak maraknya, membuat sebuah garis, kubu, benteng demi meraih kekuasaan, pride, control of people and control of government, i’m OK with that~.

Bagi saya, politik sama kotornya dengan tong sampah, namun kata mereka politik itu seni, seni untuk mengontrol, golongan maupun Individu, but in my head, politik is such a crap.

Akan lebih indah dunia ini bila tak ada partai politik, namun beras yang kamu makan bahkan juga buah kerja keras dari politikus, ini berat. Berat memang mengakui bahwa politik memiliki GUNA.

Ketika badai politik datang, tepatnya 1 tahun yang lalu dimana berlangsung perang sengit antara pendukung capres a dan capres b, saya memilih untuk diam, tapi lama kelamaan ada yang janggal dalam pikiran saya, kenapa saya tidak berbuat sesuatu? Pikir saya. hingga saya menemukan orang orang yang bisa diajak untuk MELAKUKAN SESUATU di dunia maya, ya. ANDA TIDAK SALAH BACA, DI DUNIA MAYA! Fokus kami adalah melakukan kampanye damai, kampanye tentang “STOP DONG FANATISME NYA!” hingga seorang bapak-bapak menanggapi aksi kami di Internet, “HEY BOCAH, KALIAN TAHU APA SOAL POLITIK?” ini tidak membuat kami patah arang, setiap gerakan yang bahkan itu positif nilainya, juga akan dihentikan oleh douche bag-douche bag ini.

Saya menamai gerakan kampanye ini “TROLLING THE WORLD” sebuah gerakan yang dipelopori oleh anak muda yang mulai muak oleh fanatisme, kebencian terhadap bangsa sendiri dan keinginan suatu golongan untuk memecah persatuan bangsa, dalam memang, namun gerakan kami kecil tanpa arti bila tiada mendapat sorotan dari khalayak pengguna media sosial, sejak Juni 2014 lalu kami aktif melakukan kampanye melawan kelompok-kelompok tertentu. Kami secara tidak langsung berantai dengan http://www.change.org/id suatu gerakan perubahan dengan ciri khas signature oleh pendukung suatu petisi. Petisi petisi stop fanatisme capres mulai bermunculan, semangat kami bertambah, kami yang awalnya berasal dari sebuah grup di Facebook, well kami (jamak) berasal dari 3 orang founder utama, saya sendiri, Vicky Hibal Januar dan Ahadiah Ayu Mulfa. Secara tidak sengaja kami melakukan perdebatan panjang namun masih menggunakan kepala dingin dan akal sehat

And tomorrow (21 June) is our anniversary. 😛

Saya dan Agama

Saya dan Agama

Saya seringkali tidak menampakkan identitas agama saya di kalangan umum, bukan bermaksud lain selain saya menjaga. Saya beragama Islam, saya yakin akan keberadaan atau eksistensi dari Tuhan saya, namun karena dulunya, saya berada di lingkungan yang sangat heterogen, dimana disana mayoritasnya adalah pemeluk agama Nasrani, sehingga kami seringkali bercengkrama dan disaat yang sama seperti kami meninggalkan identitas agama dan berbaur satu sama lain, pernah juga beberapa diantara teman saya mempertanyakan tentang hal-hal yang berbau sensitif, tentang syurga dan neraka di agama lain, saya lebih memilih untuk mundur kemudian mencari bahan bacaan atau bahan obrolan dengan teman yang lain.

Di halaman tentang pada blog pribadi saya, dengan quote saya menuliskan kalimat penjelas mengenai status keagamaan saya,

I’m not a very religious person,yes i do believe in god and believe on His existence, but in some reasons i hate to do a “too much

saya menuliskan pernyataan ini dalam bahasa Inggris, yang maksudnya bahwa saya bukan orang yang sangatlah religius, saya percaya pada Tuhan dan keberadaannya, namun pada beberapa alasan, saya benci untuk melakukannya dengan terlalu berlebihan, saya lebih menyukai kesederhanaan dari cara saya ini.

Bila saya melihat beberapa buku dan web blog yang membahas mengenai kepercayaan, saya seringkali memalinkgkan diri dan lebih memilih untuk membaca hal lain yang menurut saya lebih menarik, disatu sisi, saya seringkali mempertanyakan kenapa para pemeluk agama saling membenci satu sama lain, bukannya setiap agama mengajarkan perdamaian? Mengajarkan cara untuk berhubungan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhannya? Saya seringkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu di benak saya sendiri. Juga akhir-akhir ini saya merindukan khotbah Jum’at yang mengajarkan saya tentang tauladan sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW, bukan tentang bagaimana kita harus berperang dan berperang, saya semakin tidak mengerti dan memilih untuk diam dan tetap teguh dengan ajaran lama dari guru mengaji saya bahwa, agama yang saya peluk saat ini adalah agama yang mengajarkan perdamaian. Untuk saat ini saya belum mendapatkan akses untuk menyampaikan isi pikiran saya, mungkin suatu saat nanti saya akan mendapatkan akses mengenai hal ini.

Sebagian ilmuwan, seperti Stephen Hawking bahkan tidak mempercayai akan keberadaan Tuhan, namun sebagai orang yang mempelajari sains dan suatu saat nanti akan menjadi ilmuwan juga, saya ingin keyakinan ini masih teguh di hati saya, sains belum bisa menjelaskan fenomena fenomena yang aneh, seperti fenomena kematian dan kenapa manusia mengalami kematian? Atau kenapa manusia tidak bisa menjadi kekal? Ini tidak bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan, setidaknya untuk saat ini. Walaupun, saya pernah membaca bahwa ada hubungan antara telurium, bagian pada kromosom manusia yang berbentuk memanjang, dimana bisa menjadi sebuah indikator tentang umur manusia, namun penelitian semacam ini menurut saya belum bisa menjadi rujukan karena masih terdapat beberapa flaw.

Saya, juga dulunya dan sampai saat ini, sangat menggemari sains, walaupun dibeberapa mata kuliah saya pernah mengalami kegagalan, menurut saya itu hal yang lumrah karena setiap manusia harus menghabiskan stok kegagalannya untuk mendapatkan stok keberhasilannya. Saya tidak ingin, bila suatu saat nanti, saya menjadi seorang ilmuwan yang buta agama, kekosongan karena sains tidak akan pernah ada yang bisa mengganti kecuali agama. Sebarapa pun ilmu yang saya miliki, saya rasa ilmu itu tidak akan pernah bisa menggantikanNya.

Saya kira, disebagian wilayah Indonesia, akhir akhir ini gencar dengan berita SARA, ini bukanlah Indonesia seperti apa yang dicita citakan oleh founding father kita, saya yakin itu. Indonesia adalah negara dengan keyakinan yang jamak, dengan suku yang heterogen, bukan satu yang menjadikan kita bersatu, tapi banyaklah yang menjadikan kita bersatu. Saya yakin itu. Pun, di media media sosial, akhir akhir ini juga, saya merasakan muak, membaca setiap kiriman yang berbau Agamis, namun mengajarkan perihal keradikalan, apa itu yang agama ajarkan? Saya rasa bagaimana pemerintah melakukan sensorship terhadap beberapa website yang memiliki nama domain berbau islami cukuplah tepat, karena semua isi website tersebut tidak lain adalah fitnah dan kesesatan.

Well, i think it’s the longest paragraph i ever write on this blog 😛