My Political Line

My Political Line

Ketika seseorang berbicara mengenai pemilu, saya memilih diam. Ketika seseorang berbicara tentang kebobrokan sebuah partai politik, saya memilih diam. Ketika seseorang menghancurkan kesatuan dan persatuan demi fanatisme, saya, saya seperti bukan saya yang dulunya diam dalam menghadapi orang-orang seperti ini, melawan mereka bukanlah hal bijak, hal yang paling bijak adalah berhenti mengacuhkan mereka karena hal yang paling mereka butuhkah adalah perhatian dari publik. Yang sebaiknya kita hindari adalah menghindari fanatisme terhadap suatu golongan, termasuk fanatisme pada Tuhan yang akhirnya juga akan melahirkan kebutaan akan apa itu kemanusiaan. Saya tidak menyalahkan mereka yang mengikuti suatu golongan yang kini tengah marak maraknya, membuat sebuah garis, kubu, benteng demi meraih kekuasaan, pride, control of people and control of government, i’m OK with that~.

Bagi saya, politik sama kotornya dengan tong sampah, namun kata mereka politik itu seni, seni untuk mengontrol, golongan maupun Individu, but in my head, politik is such a crap.

Akan lebih indah dunia ini bila tak ada partai politik, namun beras yang kamu makan bahkan juga buah kerja keras dari politikus, ini berat. Berat memang mengakui bahwa politik memiliki GUNA.

Ketika badai politik datang, tepatnya 1 tahun yang lalu dimana berlangsung perang sengit antara pendukung capres a dan capres b, saya memilih untuk diam, tapi lama kelamaan ada yang janggal dalam pikiran saya, kenapa saya tidak berbuat sesuatu? Pikir saya. hingga saya menemukan orang orang yang bisa diajak untuk MELAKUKAN SESUATU di dunia maya, ya. ANDA TIDAK SALAH BACA, DI DUNIA MAYA! Fokus kami adalah melakukan kampanye damai, kampanye tentang “STOP DONG FANATISME NYA!” hingga seorang bapak-bapak menanggapi aksi kami di Internet, “HEY BOCAH, KALIAN TAHU APA SOAL POLITIK?” ini tidak membuat kami patah arang, setiap gerakan yang bahkan itu positif nilainya, juga akan dihentikan oleh douche bag-douche bag ini.

Saya menamai gerakan kampanye ini “TROLLING THE WORLD” sebuah gerakan yang dipelopori oleh anak muda yang mulai muak oleh fanatisme, kebencian terhadap bangsa sendiri dan keinginan suatu golongan untuk memecah persatuan bangsa, dalam memang, namun gerakan kami kecil tanpa arti bila tiada mendapat sorotan dari khalayak pengguna media sosial, sejak Juni 2014 lalu kami aktif melakukan kampanye melawan kelompok-kelompok tertentu. Kami secara tidak langsung berantai dengan http://www.change.org/id suatu gerakan perubahan dengan ciri khas signature oleh pendukung suatu petisi. Petisi petisi stop fanatisme capres mulai bermunculan, semangat kami bertambah, kami yang awalnya berasal dari sebuah grup di Facebook, well kami (jamak) berasal dari 3 orang founder utama, saya sendiri, Vicky Hibal Januar dan Ahadiah Ayu Mulfa. Secara tidak sengaja kami melakukan perdebatan panjang namun masih menggunakan kepala dingin dan akal sehat

And tomorrow (21 June) is our anniversary. 😛