Saya dan Agama

Saya dan Agama

Saya seringkali tidak menampakkan identitas agama saya di kalangan umum, bukan bermaksud lain selain saya menjaga. Saya beragama Islam, saya yakin akan keberadaan atau eksistensi dari Tuhan saya, namun karena dulunya, saya berada di lingkungan yang sangat heterogen, dimana disana mayoritasnya adalah pemeluk agama Nasrani, sehingga kami seringkali bercengkrama dan disaat yang sama seperti kami meninggalkan identitas agama dan berbaur satu sama lain, pernah juga beberapa diantara teman saya mempertanyakan tentang hal-hal yang berbau sensitif, tentang syurga dan neraka di agama lain, saya lebih memilih untuk mundur kemudian mencari bahan bacaan atau bahan obrolan dengan teman yang lain.

Di halaman tentang pada blog pribadi saya, dengan quote saya menuliskan kalimat penjelas mengenai status keagamaan saya,

I’m not a very religious person,yes i do believe in god and believe on His existence, but in some reasons i hate to do a “too much

saya menuliskan pernyataan ini dalam bahasa Inggris, yang maksudnya bahwa saya bukan orang yang sangatlah religius, saya percaya pada Tuhan dan keberadaannya, namun pada beberapa alasan, saya benci untuk melakukannya dengan terlalu berlebihan, saya lebih menyukai kesederhanaan dari cara saya ini.

Bila saya melihat beberapa buku dan web blog yang membahas mengenai kepercayaan, saya seringkali memalinkgkan diri dan lebih memilih untuk membaca hal lain yang menurut saya lebih menarik, disatu sisi, saya seringkali mempertanyakan kenapa para pemeluk agama saling membenci satu sama lain, bukannya setiap agama mengajarkan perdamaian? Mengajarkan cara untuk berhubungan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhannya? Saya seringkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu di benak saya sendiri. Juga akhir-akhir ini saya merindukan khotbah Jum’at yang mengajarkan saya tentang tauladan sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW, bukan tentang bagaimana kita harus berperang dan berperang, saya semakin tidak mengerti dan memilih untuk diam dan tetap teguh dengan ajaran lama dari guru mengaji saya bahwa, agama yang saya peluk saat ini adalah agama yang mengajarkan perdamaian. Untuk saat ini saya belum mendapatkan akses untuk menyampaikan isi pikiran saya, mungkin suatu saat nanti saya akan mendapatkan akses mengenai hal ini.

Sebagian ilmuwan, seperti Stephen Hawking bahkan tidak mempercayai akan keberadaan Tuhan, namun sebagai orang yang mempelajari sains dan suatu saat nanti akan menjadi ilmuwan juga, saya ingin keyakinan ini masih teguh di hati saya, sains belum bisa menjelaskan fenomena fenomena yang aneh, seperti fenomena kematian dan kenapa manusia mengalami kematian? Atau kenapa manusia tidak bisa menjadi kekal? Ini tidak bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan, setidaknya untuk saat ini. Walaupun, saya pernah membaca bahwa ada hubungan antara telurium, bagian pada kromosom manusia yang berbentuk memanjang, dimana bisa menjadi sebuah indikator tentang umur manusia, namun penelitian semacam ini menurut saya belum bisa menjadi rujukan karena masih terdapat beberapa flaw.

Saya, juga dulunya dan sampai saat ini, sangat menggemari sains, walaupun dibeberapa mata kuliah saya pernah mengalami kegagalan, menurut saya itu hal yang lumrah karena setiap manusia harus menghabiskan stok kegagalannya untuk mendapatkan stok keberhasilannya. Saya tidak ingin, bila suatu saat nanti, saya menjadi seorang ilmuwan yang buta agama, kekosongan karena sains tidak akan pernah ada yang bisa mengganti kecuali agama. Sebarapa pun ilmu yang saya miliki, saya rasa ilmu itu tidak akan pernah bisa menggantikanNya.

Saya kira, disebagian wilayah Indonesia, akhir akhir ini gencar dengan berita SARA, ini bukanlah Indonesia seperti apa yang dicita citakan oleh founding father kita, saya yakin itu. Indonesia adalah negara dengan keyakinan yang jamak, dengan suku yang heterogen, bukan satu yang menjadikan kita bersatu, tapi banyaklah yang menjadikan kita bersatu. Saya yakin itu. Pun, di media media sosial, akhir akhir ini juga, saya merasakan muak, membaca setiap kiriman yang berbau Agamis, namun mengajarkan perihal keradikalan, apa itu yang agama ajarkan? Saya rasa bagaimana pemerintah melakukan sensorship terhadap beberapa website yang memiliki nama domain berbau islami cukuplah tepat, karena semua isi website tersebut tidak lain adalah fitnah dan kesesatan.

Well, i think it’s the longest paragraph i ever write on this blog 😛