Seperti Soto Tadi Pagi

Sebelum berangkat ke kampus, saya menyempatkan untuk sarapan di warung makan langganan. Setelah memilih tempat duduk, kemudian saya memesan soto, dan kebiasaan saya, saat makan soto adalah suiran (suir-an: potongan kecil) tahu yang disiram dengan kuah soto yang panas, lalu ditambah dengan telur rebus, namun, kali ini saya sedang kurang beruntung. Beberapa saat kemudian, soto yang saya pesan diantarkan ke meja saya, tak lupa sepiring nasi putih hangat. Berhubung sudah tanggal 10, saya tidak memesan teh manis, maklumlah anak kost. Lalu saya mencoba seruputan kuah pertama, tanpa apa apa, simply seperi apa yang dibuat oleh ibu yang punya warung, dan…

beuhhh rasanya, elegant, simpel, ngga muluk-muluk!

Dari seruputan kuah soto itu, saya belajar sesuatu, sesuatu yang sudah dibuat, intinya sudah sempurna, tanpa ditambah-tambah dengan embel-embel, just use it like what it used to be, kalo makanan, just eat it like what it used to be, jangan ditambah sama sambal, karena rasa pedas sambel. bakalan ngerubah rasa asli dari makanan itu, nikmati saja seperti apa makanan itu saat itu disajikan di piringnya.

Sudah, segini dulu. Nanti saya ceritain tempat bakso langganan, tapi saya ngga janji, ya! 🙂

Just enjoy it like what it used to, when you add any other seasoning, then it’ll loose its simplicity, its simple taste, don’t loose it.